BALADA BESAN DAN MENANTU (PART10)
Isi Postingan:
BALADA BESAN DAN MENANTU PART10
…Ceritadewasa..
.
.
.
Umi Latifah dikenal dengan julukan Umi
Ustadzah, sebuah gelar yang didapatnya
karena ia adalah istri seorang ustad terkemuka
di kampung. Penampilannya sering kali
memancarkan kesan istri salehah baju gamis
panjang, kerudung lebar, dan tutur kata yang
lembut jika sedang berada di hadapan
suaminya.
Warga sering melihatnya berdiri di samping
sang suami dalam acara-acara pengajian,
tersenyum tenang, menunduk dengan sikap
penuh keanggunan. Banyak yang
menganggapnya sebagai sosok panutan,
gambaran sempurna dari wanita berilmu dan
berakhlak mulia.
.
.
.
Namun, di balik citra ustadzah itu, Umi
Latifah menyimpan sisi gelap yang tak banyak
orang tahu. Meski
sering terlihat
mendampingi suaminya di
pengajian,
kenyataannya, ilmu agama Umi Latifah tak
seberapa. Ia bahkan belum pernah mesantren
atau mengikuti kajian secara mendalam.
Semua penampilannya hanyalah ilusi belaka,
topeng yang dipakainya dengan sempurna
ketika ada orang yang melihat. Ketika jauh
dari pandangan umum, terutama ketika
suaminya tak ada di dekatnya, Umi Latifah
berubah total.
.
.
.
Mlutnya yang tampak manis di depan orang
ramai, berubah menjadi pedas seperti sambal
di pasar. Tak jarang, ia menjadi sumber gosip
yang lebih tajam dari lidah tukang nyinyir
kelas nasional. Ibu-ibu di sekitar sering
membicarakan betapa Umi Latifah bisa
menjadi sosok yang begitu berbeda-lebih licik,
lebih manipulatif, dan mlutnya penuh
sindiran tajm di belakang punggung siapa
saja.
Bahkan ibu-ibu biasa yang dikenal suka
bergosip merasa kalah saing jika Umi Latifah
sudah angkat bicara. Di balik kerudung
lebarnya dan senyum lembutnya, ia
menyimpan sisi gelap yang lebih rusak dari
yang orang-orang sangka.
Umi Latifah, kini duduk di ruang tamu
rumahnya dengan wajah yang tampak gelisah.
Jari-jarinya tak henti-hentinya mermas
kerudungnya yang berwarna hijau tua, sambil
sesekali ia menatap kosong ke arah pintu.
Perasaan tidak nyaman menggelayuti hatinya
sejak ia meninggalkan gubuk sawah itu
bersama Pak Sarnu.
Umi Latifah merasa ada sepasang mata yang
mengawasi mereka kala itu. Namun saat di
gubug tadi,
tadi, ia berusaha menepisnya,
menganggapnya hanya imajinasinya saja yang
terbawa suasana. Tapi sekarang, ketika ia
berada sendirian di rumah, pikiran itu
semakin kuat dan membuatnya semakin
gelisah.
.
.
.
Apa ada orang yang melihat? pertanyaan itu
berulang kali melintas di benaknya.
Umi Latifah berusaha keras untuk meyakinkan
dirinya bahwa itu hanya perasaannya saja.
Namun, rasa khawatir bahwa ada seseorang
yang mengintip perbuatannya terus
menghantui.
Ia tahu sebagai istri ustad, dirinya menjadi
panutan banyak orang. Jika apa yang ia
lakukan dengan Pak Sarnu terbongkar, tidak
hanya harga dirinya dan keluarganya yang
hancur, tetapi juga kepercayaan jamaah
terhadap dirinya dan suaminya. Bagaimana
mungkin ia, seorang yang selama ini
menyebarkan ajaran kebaikan, malah jatuh ke
dalam perbuatan tercela?
Apa yang akan terjadi jika benar-benar ada
yang melihatnya? Siapa pun yang mungkin
mengintip dari luar gubuk itu, pasti bisa saja
menyebarkan gosip tentang dirinya.
Reputasinya, keluarganya, semua truhannya terlalu besar..
.
.
NoteL..i..k..e..mu penyemangat Mimin
Related: Explore more posts
