BALADA BESAN DAN MENANTU (PART11)
Isi Postingan:
BALADA BESAN DAN MENANTU PART11
…Cwritadewasa..
Keesokan harinya, rasa gelisah Umi Latifah
semakin memuncak. Ia tak tahan dengan
perasaan was-was yang terus menghantuinya,
sehingga memutuskan untuk mendatangi Pak
Amat, pemilik sawah tempat kejadian itu.
Ia berharap bisa mendapatkan jawaban yang
akan menenangkan pikirannya. Umi Latifah
tak ingin terus-menerus dibayangi oleh rasa
takut
ada yang menyaksikan
perselngkuhannya di gubuk itu.
.
.
.
Setibanya di rumah Pak Amat, Umi Latifah
mengetuk pintu dengan sopan. Tak lama
kemudian, Pak Amat muncul di depan pintu,
menyambutnya dengan senyum ramah.
Assalamu’alaikum, Umi. Ada yang bisa saya
bantu? tanya Pak Amat dengan nada hangat.
Umi Latifah membalas salamnya dan berusaha
menutupi kegelisahannya dengan senyum
tipis. Wa’alaikumussalam, Pak Amat. Saya
ingin bertanya sedikit tentang sawah yang di
sebelah barat, yang dekat dengan sawah Pak
Wira itu.
Pak Amat tampak sedikit terkejut mendengar
pertanyaan itu. Oh, sawah yang di pinggir itu?
Kebetulan sudah jarang ke sana lagi, Umi.
Malah, baru beberapa hari ini saya mau
menjualnya ke Pak Wira. Sudah lama sawah
itu tak saya garap.
.
.
.
Mendengar jawaban Pak Amat, Umi Latifah
merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Jadi Pak Amat sendiri tidak pernah ke sawah
itu belakangan ini?
Pak Amat mengangguk. Iya, Umi. Terakhir
kali saya ke sana beberapa bulan yang lalu,
sebelum istri saya meninggal, makanya mau
dijual ke Pak Wira. Mungkin yang sering ke
sana sekarang Pak Wira, sekedar melihat-lihat,
karena minggu depan kami rencanakan untuk
finalisasi pembelian.
Perkataan Pak Amat seperti petir di siang
bolong bagi Umi Latifah. Jika Pak Amat tidak
pernah ke sawah itu lagi, maka besar
kemungkinan orang yang ada di dekat gubuk
saat itu adalah Pak Wira, besannya sendiri
yang sering ia jelek-jelekan di depan semua
orang, hanya karena dia merasa simpati pada
Bu Lina, sesama besan, alias mantan istrinya
Pak Wira.
Umi Latifah mencoba tetap tenang, meskipun
pikirannya berputar kencang. Jika benar Pak
Wira yang ada di sana dan menyaksikan
segalanya, bagaimana ia bisa menghadapi
kenyataan itu? Umi Latifah merasa seluruh
tbuhnya gemetar, namun ia berusaha untuk
tetap tenang di hadapan Pak Amat.
Oh, begitu ya, Pak Amat. Saya cuma
penasaran saja, soalnya saya mendengar ada
yang bilang sawah itu mau dijual, kata Umi
Latifah, berusaha mencari alasan yang wajar
untuk pertanyaannya.
Pak Amat mengangguk lagi. Iya, insya Allah
minggu depan saya dan Pak Wira akan
bertemu lagi untuk membicarakan lebih
lanjut. Kalau ada yang bisa saya bantu lagi,
Umi, jangan sungkan-sungkan, ya.
Terima kasih, Pak Amat, jawab Umi Latifah
sambil tersenyum tipis. Setelah berbasa-basi
sebentar, ia pun berpamitan.
Dalam perjalanan pulang, langkah Umi Latifah
terasa berat. Pikirannya tak bisa lepas dari
kemungkinan bahwa Pak Wira adalah orang
yang mungkin telah mengintip kejadian di
gubuk sawah itu. Umi Latifah kini benar-benar
bingung, apa yang harus ia lakukan.
.
.
.
Sore itu, dengan langkah perlahan dan hati
berdebar, Umi Latifah pura-pura pergi ke
warung Bu Ida. Ia sering berkunjung ke sana
untuk membeli kebutuhan dapur, tetapi kali
ini niatnya berbeda.
Ia ingin memastikan apakah Pak Wira benar-
benar tahu sesuatu tentang kejadian di gubuk
sawah itu.
.
.
NoteL..i..k.e.mu penyemangat Mimin
Related: Explore more posts
