Skip to content
LahanBasah

LahanBasah

JANGAN OM (PART28)

Posted on June 4, 2025 By admin

JANGAN OM (PART28)

Isi Postingan:

JANGAN OM PART28

.

.

.

.

Hari ini, sesuai janji kepada

Siska, Kinan bersiap untuk

menemuinya di kafe dekat

taman kota. Saat hendak keluar

rumah, Joni, bodyguard yang

ditugaskan Aryo untuk

mengawalnya, segera

menghampiri.

Maaf, mau ke mana, Non?

tanya Joni sopan, namun

dengan nada tegas.

Aku mau pergi sebentar,

bertemu dengan temanku,

jawab Kinan sambil mencoba

bersikap santai.

Kalau begitu, saya akan

ikut dengan Anda, Non, balas

Joni tanpa ragu.

Kinan menghela napas,

berusaha mencari cara agar

tidak diikuti. Tidak usah, Pak.

Saya hanya sebentar kok,

ujarnya, sedikit enggan. Dalam

hatinya, ia takut Joni akan

melapor kepada Aryo kalau tahu

dia bertemu dengan Siska.

Namun Joni tetap teguh

Bab 26

pada tugasnya. Maaf, Non. Itu

tidak bisa. Saya harus ikut,

karena Tuan Aryo

memerintahkan saya untuk

mengawal Anda ke mana pun.

Keselamatan Anda adalah

tanggung jawab saya.

Melihat kegigihan Joni,

Kinan akhirnya menyerah. Ia

tidak punya pilihan lain selain

menyetujui keputusan itu.

Baiklah, tapi ada syarat. Anda

harus menunggu di luar saja,

katanya, mencoba

menegosiasikan sedikit ruang

privasi.

Joni mengangguk. Baik,

Non. Saya akan menunggu di

luar.

…

Meskipun lega, Kinan masih

merasa was-was. Ia hanya bisa

berharap pertemuannya dengan

Siska berjalan lancar tanpa

menimbulkan kecurigaan.

Sesampainya di kafe, Kinan

segera masuk dan memilih

tempat duduk di pojok ruangan

yang tenang dan tidak terlalu

ramai. Ia sengaja memilih lokasi

itu agar pertemuannya dengan

Siska tidak menarik perhatian.

Jantungnya berdebar cemas,

tapi ia berusaha bersikap tenang.

Tak lama kemudian, Siska

datang. Wanita itu melangkah

masuk ke kafe dengan gaya

percaya diri, matanya langsung

mencari Kinan. Di luar, Joni

yang bertugas menunggu, tak

sengaja melihat Siska memasuki

kafe yang sama. Seketika, ia

merasa curiga.

Joni mengenal Siska dengan

cukup baik. Dulu, Aryo pernah

menugaskannya menjadi

bodyguard wanita itu sebelum

ditugaskan mengawal Kinan.

Meski tidak tahu pasti bahwa

Kinan ke kafe ini untuk bertemu

Siska, Joni tidak bisa

mengabaikan kemungkinan

tersebut. Dengan langkah cepat,

Joni memasuki kafe, mengamati

situasi dengan cermat.

Siska akhirnya menemukan

Kinan dan berjalan

menghampiri meja di pojok itu.

Melihat Siska dan Kinan saling

menyapa, kecurigaan Joni

semakin kuat. Ia memutuskan

untuk tetap berada di dalam

kafe, memastikan semuanya

aman, sekaligus mencari tahu

apa yang sebenarnya sedang

terjadi.

Sementara itu, Kinan tidak

menyadari kehadiran Joni di

dalam kafe. Wajahnya berubah

sedikit tegang saat melihat Siska,

tapi ia berusaha menutupinya.

Ia tahu, pertemuannya dengan

Siska pasti akan membahas hal

penting, dan ia harus

berhati-hati dengan setiap kata

yang diucapkan.

…

Siska segera duduk dan

menatap Kinan dengan ekspresi

datar, matanya mengamati

dengan tajam. Kamu yang

bernama Kinan? tanyanya

tanpa basa-basi.

Kinan tersenyum tipis,

mencoba menjaga sikap ramah.

Ia mengulurkan tangannya

kepada Siska. Iya, Mbak, saya

Kinan, jawabnya sopan.

Namun, tanpa

memperdulikan gestur Kinan,

Siska langsung melontarkan

pertanyaan yang membuat

suasana menjadi tegang. Sejak

kapan kamu menjadi istri muda

Mas Aryo? tanyanya to the

point.

Kinan terdiam sejenak,

terkejut sekaligus bingung. Ia

merasakan ada beban berat di

udara, tapi akhirnya

memutuskan untuk jujur.

Dengan suara pelan, hampir

seperti bisikan, ia menjawab,

Sudah hampir empat bulan,

Mbak.

Ekspresi Siska tetap datar

mendengar jawaban itu, tanpa

emosi yang jelas. Setelah

beberapa detik hening, ia

menghela napas panjang dan

mengeluarkan sesuatu dari

tasnya. Aku ingin

memberitahumu sesuatu yang

penting, Kinan, ucapnya,

menatap Kinan dalam-dalam.

Kinan menunggu dengan

cemas, tidak tahu apa yang akan

dikatakan Siska. Tiba-tiba, Siska

mengeluarkan alat tes

kehmilan bergaris dua dan

meletakkannya di atas meja.

Aku sekarang sedang hmil,

akan segera ditampilkan

katanya tegas, seolah

memastikan Kinan tidak salah

paham.

Mata Kinan melebar, dan

napasnya tercekat. Berita itu

seperti petir yang menyambar di

siang bolong. Ia tidak tahu harus

berkata apa, seluruh tbuhnya

terasa kaku. Dalam pikirannya,

ia mencoba memahami

kenyataan baru ini, tapi hatinya

dihantam berbagai perasaan-

kaget, sedih, dan bingung

bercampur jadi satu.

Siska menatap Kinan

dengan dingin, bibirnya

mengucapkan kata-kata yang

menusuk tanpa ragu. Aku tahu

Mas Aryo membelimu dari

tempat lelang karena dia

menginginkan anak darimu.

Aku juga tahu itu terjadi karena

dulu aku tidak mau hamil. Tapi

sekarang aku berubah pikiran,

Kinan. Aku hamil, dan aku ingin

kamu pergi dari kehidupan

rumah tanggaku, katanya

tajam.

Kinan terdiam, menunduk.

Kata-kata itu menembus

hatinya seperti pisau. Tapi,

Mbak… aku-

Belum sempat Kinan

menyelesaikan kalimatnya,

Siska memotong dengan nada

yang lebih tegas. Jangan bilang

kalau kamu tidak mau

meninggalkan Mas Aryo?

…

Wajah Siska berubah sedikit

emosional, tapi tetap terkontrol.

Dengar, Kinan, kita sama-sama

perempuan. Kamu seharusnya

tahu bagaimana hancurnya

hatiku saat mengetahui

suamiku menikah lagi

denganmu. Apalagi aku sedang

hamil sekarang.

Siska menarik napas dalam,

matanya mulai memerah,

namun ia tetap melanjutkan.

Apa kamu nggak malu dicap

sebagai pelakor? Apa kamu tega,

Kinan, kalau aku sampai harus

berpisah dengan Mas Aryo

gara-gara kamu? Bagaimana

nasib anakku nanti kalau harus

tumbuh tanpa ayahnya?

Siska mengakhiri

ucapannya dengan nada sedih,

wajahnya berubah lembut, tapi

tetap penuh tekanan. Ia tahu

Kinan hanyalah seorang gadis

muda yang naif, mudah

dipengaruhi, dan kemungkinan

besar dia akan merasa iba

dengan Siska. Bagi Siska, ini

adalah saat yang tepat untuk

membuat Kinan mengerti posisi

dirinya, bahwa rumah

tangganya bersama Aryo adalah

sesuatu yang tidak boleh

diganggu gugat. Dia memilih

bermain cantik dengan

menyuruh Kinan pergi dengan

sukarela, daripada dengan cara

kekerasan.

Sementara itu, hati Kinan

remuk. Ia tak bisa menjawab,

hanya bisa menunduk dengan

air mata yang mulai

menggenang di pelupuk

matanya. Ia tidak pernah

berniat melukai siapa pun, tapi

kini ia dihadapkan pada

kenyataan yang jauh lebih rumit

dari yang ia bayangkan.

Kinan menggeleng pelan,

matanya berkaca-kaca, tapi ia

mencoba berbicara dengan

suara yang tegar meski

terdengar rapuh. Tapi aku

nggak bisa pergi begitu saja dari

Mas Aryo, Mbak. Kami punya

perjanjian. Aku sudah terikat

dengannya.

Siska menatap Kinan

dengan penuh pengertian. Ia

mengulurkan tangannya dan

menggenggam lembut telapak

tangan Kinan. Kamu jangan

khawatir, Kinan. Aku yang akan

mengurus semua masalah ini.

Asal kamu setuju untuk pergi

dari kehidupan Mas Aryo, aku

akan membantumu. Bahkan,

aku bisa memastikan Mas Aryo

nggak akan menemukan kamu

nanti, ujar Siska dengan nada

menenangkan.

…

Kinan terdiam. Kata-kata

Siska membuatnya semakin

bimbang. Ia tahu dirinya berada

di posisi sulit, di mana semua

keputusannya akan melukai

seseorang, termasuk dirinya

sendiri. Beri aku waktu, Mbak,

akhirnya ia berbisik. Aku

harus memikirkan keputusan

ini dengan matang. Aku minta

maaf kalau kehadiranku

menghancurkan kehidupan

rumah tangga Mbak Siska dan

Mas Aryo. Tapi ini semua bukan

keinginanku. Aku tidak punya

pilihan, Mbak, ucapnya sambil

menahan tangis yang hampir

pecah.

Siska mengangguk pelan,

seolah mengerti bahwa gadis

muda di depannya hanyalah

korban dari keadaan. Aku tahu,

Kinan. Aku paham bagaimana

posisi kamu. Dan aku juga tahu

seperti apa watak Aryo. Mas

Aryo itu sangat mencintaiku,

dia hanya marah karena aku

dulu tidak mau hamil. Makanya

dia memilih menikahimu, agar

bisa punya anak. Siska

berhenti sejenak, menatap

Kinan dengan tatapan iba. Tapi

sekarang aku sudah hamil,

Kinan. Dan aku kasihan, kalau

nanti kamu hanya akan dibuang

begitu saja sama Mas Aryo,

setelah tau kalau aku hamil.

Kinan menunduk, air

matanya akhirnya tumpah. Ia

merasa hancur, terjepit di

antara perasaannya sendiri dan

kenyataan yang tak bisa

dihindari. Kata-kata Siska terus

terngiang di kepalanya,

menambah beban di hatinya

yang sudah rapuh. Di satu sisi, ia

ingin bebas dari situasi ini, tapi

di sisi lain, meninggalkan Aryo

bukanlah hal yang mudah, baik

secara emosional maupun

karena perjanjian yang

mengikatnya.

…

Sepanjang perjalanan

pulang dari kafe, Kinan hanya

duduk diam di dalam mobil.

Pandangannya kosong,

pikirannya dipenuhi oleh

percakapan dengan Siska tadi.

Joni, yang memperhatikan

perubahan sikap Kinan, merasa

cemas. Ia melirik ke arah kaca

spion dan bertanya, Non,

apakah Anda baik-baik saja?

Kinan hanya mengangguk

kecil tanpa menjawab. Ia terlalu

sibuk dengan pikirannya

sendiri, mencoba mencari jalan

keluar dari situasi yang rumit.

Siska memberikan waktu tiga

hari untuk membuat keputusan

sebelum Aryo kembali dari luar

negeri. Kinan tahu, jika Aryo

sudah pulang, akan jauh lebih

sulit baginya untuk pergi.

Sesampainya di vila, Kinan

merasa tubuhnya semakin

lemah. Tiba-tiba, perutnya

terasa mual. Ia buru-buru

berlari ke kamar mndi dan

memuntahkan seluruh isi

perutnya. Kepalanya berdenyut,

dan tubuhnya terasa lemas.

Kenapa perutku mual lagi, ya?

gumamnya pelan sambil

memegangi perut. Apa asam

lambungku naik lagi? pikirnya.

Untuk meredakan mual,

Kinan memutuskan minum obat

asam lambung. Namun, hingga

malam hari, rasa mual itu tidak

juga mereda. Saat makan

malam, ia kembali

memuntahkan makanan yang ia

konsumsi, kali ini dengan rasa

yang lebih aneh. Perutnya

masih bergejlak, dan rasa

pusing tidak juga hilang.

Kinan mulai merasa ada

yang tidak biasa. Rasanya

berbeda… bukan seperti asam

lambung biasanya, gumamnya

dengan cemas. Ia mencoba

mengingat kapan terakhir kali ia

menstruasi. Setelah

menghitung dengan hati-hati, ia

terkejut. Ternyata… dari bulan

lalu aku belum menstruasi…

pikirnya.

Tubuhnya membeku

sejenak, lalu sebuah pikiran

muncul, membuatnya semakin

gelisah. Apa aku hamil?

tanyanya pada dirinya sendiri,

merasa kaget sekaligus takut

dengan kemungkinan itu.

Hari ini, Kinan

memutuskan untuk tidak masuk

kuliah. Tubuhnya masih terasa

lemas, dan rasa mual belum juga

hilang. Ia memutuskan untuk

pergi ke apotek, meski ragu.

Dengan langkah pelan, ia

membeli dua tespack dengan

merek berbeda. Bukan karena ia

ingin hmil, tapi lebih karena

penasaran dan ingin

memastikan apa yang

sebenarnya terjadi pada

tbuhnya.

…

Sepulangnya dari apotek,

Kinan langsung menuju kamar.

Jantungnya berdebar-debar saat

ia membuka kemasan tespack.

Ia mencoba keduanya, Kinan

sengaja memilih dua alat tes

agar hasilnya lebih akurat.

Setelah selesai, Kinan duduk di

tepi ranjang, menatap alat tes

itu yang tergeletak di meja.

Waktu terasa berjalan

sangat lambat. Kinan memeluk

lututnya, berharap dengan

segenap hati bahwa hasilnya

negatif. Ia tidak ingin

menghadapi masalah baru

dalam hidupnya, terutama

setelah percakapan berat

dengan Siska kemarin.

Perlahan, ia melirik tespack

itu, tapi ia masih terlalu gugup

untuk mendekat. Tolong…

tolong jangan positif, bisiknya

lirih. Dengan tangan gemetar,

Kinan mencoba melihat hasil

dari kedua tespack tersebut.

Tidak mungkin, ucap

Kinan sambil membekap

mulutnya dan matanya melebar,

melihat dua garis merah

dikedua tespack yang

dipegangnya.

NoteL..i..k..e..mu penyemangat Mimin


Related: Explore more posts

Kisah Menarik Tags:Cerita Basah, Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seru, Kisah Basah, Kisah Seru

Post navigation

Previous Post: JANGAN OM (PART29)
Next Post: JANGAN OM (PART27)

Related Posts

Usaha Tak Mengkhianati Hasil Kisah Menarik
JANGAN OM (PART61) Kisah Menarik
Tetangga idaman (PART45) Kisah Menarik
JANGAN OM (PART50) Kisah Menarik
BALADA BESAN DAN MENANTU (PART58) Kisah Menarik
JANGAN OM (PART63) Kisah Menarik

Recent Posts

  • Teman Sekolah SMA-ku Datang Menginap di Rumahku Ketika
  • Malam Tak Terduga dengan Sahabat Lamaku
  • Godaan Tengah Malam di Rumah Tanteku
  • Pertemuan Kembali
  • Kemenangan Inspiratif: Jackpot Besar di Megawin888

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025

Categories

  • Kisah Menarik

Copyright © 2026 LahanBasah.

Powered by PressBook Grid Dark theme