JANGAN OM (PART28)
Isi Postingan:
JANGAN OM PART28
.
.
.
.
Hari ini, sesuai janji kepada
Siska, Kinan bersiap untuk
menemuinya di kafe dekat
taman kota. Saat hendak keluar
rumah, Joni, bodyguard yang
ditugaskan Aryo untuk
mengawalnya, segera
menghampiri.
Maaf, mau ke mana, Non?
tanya Joni sopan, namun
dengan nada tegas.
Aku mau pergi sebentar,
bertemu dengan temanku,
jawab Kinan sambil mencoba
bersikap santai.
Kalau begitu, saya akan
ikut dengan Anda, Non, balas
Joni tanpa ragu.
Kinan menghela napas,
berusaha mencari cara agar
tidak diikuti. Tidak usah, Pak.
Saya hanya sebentar kok,
ujarnya, sedikit enggan. Dalam
hatinya, ia takut Joni akan
melapor kepada Aryo kalau tahu
dia bertemu dengan Siska.
Namun Joni tetap teguh
Bab 26
pada tugasnya. Maaf, Non. Itu
tidak bisa. Saya harus ikut,
karena Tuan Aryo
memerintahkan saya untuk
mengawal Anda ke mana pun.
Keselamatan Anda adalah
tanggung jawab saya.
Melihat kegigihan Joni,
Kinan akhirnya menyerah. Ia
tidak punya pilihan lain selain
menyetujui keputusan itu.
Baiklah, tapi ada syarat. Anda
harus menunggu di luar saja,
katanya, mencoba
menegosiasikan sedikit ruang
privasi.
Joni mengangguk. Baik,
Non. Saya akan menunggu di
luar.
…
Meskipun lega, Kinan masih
merasa was-was. Ia hanya bisa
berharap pertemuannya dengan
Siska berjalan lancar tanpa
menimbulkan kecurigaan.
Sesampainya di kafe, Kinan
segera masuk dan memilih
tempat duduk di pojok ruangan
yang tenang dan tidak terlalu
ramai. Ia sengaja memilih lokasi
itu agar pertemuannya dengan
Siska tidak menarik perhatian.
Jantungnya berdebar cemas,
tapi ia berusaha bersikap tenang.
Tak lama kemudian, Siska
datang. Wanita itu melangkah
masuk ke kafe dengan gaya
percaya diri, matanya langsung
mencari Kinan. Di luar, Joni
yang bertugas menunggu, tak
sengaja melihat Siska memasuki
kafe yang sama. Seketika, ia
merasa curiga.
Joni mengenal Siska dengan
cukup baik. Dulu, Aryo pernah
menugaskannya menjadi
bodyguard wanita itu sebelum
ditugaskan mengawal Kinan.
Meski tidak tahu pasti bahwa
Kinan ke kafe ini untuk bertemu
Siska, Joni tidak bisa
mengabaikan kemungkinan
tersebut. Dengan langkah cepat,
Joni memasuki kafe, mengamati
situasi dengan cermat.
Siska akhirnya menemukan
Kinan dan berjalan
menghampiri meja di pojok itu.
Melihat Siska dan Kinan saling
menyapa, kecurigaan Joni
semakin kuat. Ia memutuskan
untuk tetap berada di dalam
kafe, memastikan semuanya
aman, sekaligus mencari tahu
apa yang sebenarnya sedang
terjadi.
Sementara itu, Kinan tidak
menyadari kehadiran Joni di
dalam kafe. Wajahnya berubah
sedikit tegang saat melihat Siska,
tapi ia berusaha menutupinya.
Ia tahu, pertemuannya dengan
Siska pasti akan membahas hal
penting, dan ia harus
berhati-hati dengan setiap kata
yang diucapkan.
…
Siska segera duduk dan
menatap Kinan dengan ekspresi
datar, matanya mengamati
dengan tajam. Kamu yang
bernama Kinan? tanyanya
tanpa basa-basi.
Kinan tersenyum tipis,
mencoba menjaga sikap ramah.
Ia mengulurkan tangannya
kepada Siska. Iya, Mbak, saya
Kinan, jawabnya sopan.
Namun, tanpa
memperdulikan gestur Kinan,
Siska langsung melontarkan
pertanyaan yang membuat
suasana menjadi tegang. Sejak
kapan kamu menjadi istri muda
Mas Aryo? tanyanya to the
point.
Kinan terdiam sejenak,
terkejut sekaligus bingung. Ia
merasakan ada beban berat di
udara, tapi akhirnya
memutuskan untuk jujur.
Dengan suara pelan, hampir
seperti bisikan, ia menjawab,
Sudah hampir empat bulan,
Mbak.
Ekspresi Siska tetap datar
mendengar jawaban itu, tanpa
emosi yang jelas. Setelah
beberapa detik hening, ia
menghela napas panjang dan
mengeluarkan sesuatu dari
tasnya. Aku ingin
memberitahumu sesuatu yang
penting, Kinan, ucapnya,
menatap Kinan dalam-dalam.
Kinan menunggu dengan
cemas, tidak tahu apa yang akan
dikatakan Siska. Tiba-tiba, Siska
mengeluarkan alat tes
kehmilan bergaris dua dan
meletakkannya di atas meja.
Aku sekarang sedang hmil,
akan segera ditampilkan
katanya tegas, seolah
memastikan Kinan tidak salah
paham.
Mata Kinan melebar, dan
napasnya tercekat. Berita itu
seperti petir yang menyambar di
siang bolong. Ia tidak tahu harus
berkata apa, seluruh tbuhnya
terasa kaku. Dalam pikirannya,
ia mencoba memahami
kenyataan baru ini, tapi hatinya
dihantam berbagai perasaan-
kaget, sedih, dan bingung
bercampur jadi satu.
Siska menatap Kinan
dengan dingin, bibirnya
mengucapkan kata-kata yang
menusuk tanpa ragu. Aku tahu
Mas Aryo membelimu dari
tempat lelang karena dia
menginginkan anak darimu.
Aku juga tahu itu terjadi karena
dulu aku tidak mau hamil. Tapi
sekarang aku berubah pikiran,
Kinan. Aku hamil, dan aku ingin
kamu pergi dari kehidupan
rumah tanggaku, katanya
tajam.
Kinan terdiam, menunduk.
Kata-kata itu menembus
hatinya seperti pisau. Tapi,
Mbak… aku-
Belum sempat Kinan
menyelesaikan kalimatnya,
Siska memotong dengan nada
yang lebih tegas. Jangan bilang
kalau kamu tidak mau
meninggalkan Mas Aryo?
…
Wajah Siska berubah sedikit
emosional, tapi tetap terkontrol.
Dengar, Kinan, kita sama-sama
perempuan. Kamu seharusnya
tahu bagaimana hancurnya
hatiku saat mengetahui
suamiku menikah lagi
denganmu. Apalagi aku sedang
hamil sekarang.
Siska menarik napas dalam,
matanya mulai memerah,
namun ia tetap melanjutkan.
Apa kamu nggak malu dicap
sebagai pelakor? Apa kamu tega,
Kinan, kalau aku sampai harus
berpisah dengan Mas Aryo
gara-gara kamu? Bagaimana
nasib anakku nanti kalau harus
tumbuh tanpa ayahnya?
Siska mengakhiri
ucapannya dengan nada sedih,
wajahnya berubah lembut, tapi
tetap penuh tekanan. Ia tahu
Kinan hanyalah seorang gadis
muda yang naif, mudah
dipengaruhi, dan kemungkinan
besar dia akan merasa iba
dengan Siska. Bagi Siska, ini
adalah saat yang tepat untuk
membuat Kinan mengerti posisi
dirinya, bahwa rumah
tangganya bersama Aryo adalah
sesuatu yang tidak boleh
diganggu gugat. Dia memilih
bermain cantik dengan
menyuruh Kinan pergi dengan
sukarela, daripada dengan cara
kekerasan.
Sementara itu, hati Kinan
remuk. Ia tak bisa menjawab,
hanya bisa menunduk dengan
air mata yang mulai
menggenang di pelupuk
matanya. Ia tidak pernah
berniat melukai siapa pun, tapi
kini ia dihadapkan pada
kenyataan yang jauh lebih rumit
dari yang ia bayangkan.
Kinan menggeleng pelan,
matanya berkaca-kaca, tapi ia
mencoba berbicara dengan
suara yang tegar meski
terdengar rapuh. Tapi aku
nggak bisa pergi begitu saja dari
Mas Aryo, Mbak. Kami punya
perjanjian. Aku sudah terikat
dengannya.
Siska menatap Kinan
dengan penuh pengertian. Ia
mengulurkan tangannya dan
menggenggam lembut telapak
tangan Kinan. Kamu jangan
khawatir, Kinan. Aku yang akan
mengurus semua masalah ini.
Asal kamu setuju untuk pergi
dari kehidupan Mas Aryo, aku
akan membantumu. Bahkan,
aku bisa memastikan Mas Aryo
nggak akan menemukan kamu
nanti, ujar Siska dengan nada
menenangkan.
…
Kinan terdiam. Kata-kata
Siska membuatnya semakin
bimbang. Ia tahu dirinya berada
di posisi sulit, di mana semua
keputusannya akan melukai
seseorang, termasuk dirinya
sendiri. Beri aku waktu, Mbak,
akhirnya ia berbisik. Aku
harus memikirkan keputusan
ini dengan matang. Aku minta
maaf kalau kehadiranku
menghancurkan kehidupan
rumah tangga Mbak Siska dan
Mas Aryo. Tapi ini semua bukan
keinginanku. Aku tidak punya
pilihan, Mbak, ucapnya sambil
menahan tangis yang hampir
pecah.
Siska mengangguk pelan,
seolah mengerti bahwa gadis
muda di depannya hanyalah
korban dari keadaan. Aku tahu,
Kinan. Aku paham bagaimana
posisi kamu. Dan aku juga tahu
seperti apa watak Aryo. Mas
Aryo itu sangat mencintaiku,
dia hanya marah karena aku
dulu tidak mau hamil. Makanya
dia memilih menikahimu, agar
bisa punya anak. Siska
berhenti sejenak, menatap
Kinan dengan tatapan iba. Tapi
sekarang aku sudah hamil,
Kinan. Dan aku kasihan, kalau
nanti kamu hanya akan dibuang
begitu saja sama Mas Aryo,
setelah tau kalau aku hamil.
Kinan menunduk, air
matanya akhirnya tumpah. Ia
merasa hancur, terjepit di
antara perasaannya sendiri dan
kenyataan yang tak bisa
dihindari. Kata-kata Siska terus
terngiang di kepalanya,
menambah beban di hatinya
yang sudah rapuh. Di satu sisi, ia
ingin bebas dari situasi ini, tapi
di sisi lain, meninggalkan Aryo
bukanlah hal yang mudah, baik
secara emosional maupun
karena perjanjian yang
mengikatnya.
…
Sepanjang perjalanan
pulang dari kafe, Kinan hanya
duduk diam di dalam mobil.
Pandangannya kosong,
pikirannya dipenuhi oleh
percakapan dengan Siska tadi.
Joni, yang memperhatikan
perubahan sikap Kinan, merasa
cemas. Ia melirik ke arah kaca
spion dan bertanya, Non,
apakah Anda baik-baik saja?
Kinan hanya mengangguk
kecil tanpa menjawab. Ia terlalu
sibuk dengan pikirannya
sendiri, mencoba mencari jalan
keluar dari situasi yang rumit.
Siska memberikan waktu tiga
hari untuk membuat keputusan
sebelum Aryo kembali dari luar
negeri. Kinan tahu, jika Aryo
sudah pulang, akan jauh lebih
sulit baginya untuk pergi.
Sesampainya di vila, Kinan
merasa tubuhnya semakin
lemah. Tiba-tiba, perutnya
terasa mual. Ia buru-buru
berlari ke kamar mndi dan
memuntahkan seluruh isi
perutnya. Kepalanya berdenyut,
dan tubuhnya terasa lemas.
Kenapa perutku mual lagi, ya?
gumamnya pelan sambil
memegangi perut. Apa asam
lambungku naik lagi? pikirnya.
Untuk meredakan mual,
Kinan memutuskan minum obat
asam lambung. Namun, hingga
malam hari, rasa mual itu tidak
juga mereda. Saat makan
malam, ia kembali
memuntahkan makanan yang ia
konsumsi, kali ini dengan rasa
yang lebih aneh. Perutnya
masih bergejlak, dan rasa
pusing tidak juga hilang.
Kinan mulai merasa ada
yang tidak biasa. Rasanya
berbeda… bukan seperti asam
lambung biasanya, gumamnya
dengan cemas. Ia mencoba
mengingat kapan terakhir kali ia
menstruasi. Setelah
menghitung dengan hati-hati, ia
terkejut. Ternyata… dari bulan
lalu aku belum menstruasi…
pikirnya.
Tubuhnya membeku
sejenak, lalu sebuah pikiran
muncul, membuatnya semakin
gelisah. Apa aku hamil?
tanyanya pada dirinya sendiri,
merasa kaget sekaligus takut
dengan kemungkinan itu.
Hari ini, Kinan
memutuskan untuk tidak masuk
kuliah. Tubuhnya masih terasa
lemas, dan rasa mual belum juga
hilang. Ia memutuskan untuk
pergi ke apotek, meski ragu.
Dengan langkah pelan, ia
membeli dua tespack dengan
merek berbeda. Bukan karena ia
ingin hmil, tapi lebih karena
penasaran dan ingin
memastikan apa yang
sebenarnya terjadi pada
tbuhnya.
…
Sepulangnya dari apotek,
Kinan langsung menuju kamar.
Jantungnya berdebar-debar saat
ia membuka kemasan tespack.
Ia mencoba keduanya, Kinan
sengaja memilih dua alat tes
agar hasilnya lebih akurat.
Setelah selesai, Kinan duduk di
tepi ranjang, menatap alat tes
itu yang tergeletak di meja.
Waktu terasa berjalan
sangat lambat. Kinan memeluk
lututnya, berharap dengan
segenap hati bahwa hasilnya
negatif. Ia tidak ingin
menghadapi masalah baru
dalam hidupnya, terutama
setelah percakapan berat
dengan Siska kemarin.
Perlahan, ia melirik tespack
itu, tapi ia masih terlalu gugup
untuk mendekat. Tolong…
tolong jangan positif, bisiknya
lirih. Dengan tangan gemetar,
Kinan mencoba melihat hasil
dari kedua tespack tersebut.
Tidak mungkin, ucap
Kinan sambil membekap
mulutnya dan matanya melebar,
melihat dua garis merah
dikedua tespack yang
dipegangnya.
NoteL..i..k..e..mu penyemangat Mimin
Related: Explore more posts
