BALADA BESAN DAN MENANTU (PART53)
Isi Postingan:
BALADA BESAN DAN MENANTU PART53
…Ceritadewasa…
.
.
.
Pak Amat segera menghentikan cangkulnya
begitu melihat sosok Umi Latifah berjalan
mendekat dengan rantang di tangan. Ia
menyeka keringat di dahinya dengan ujung
lengan bajunya, senyumnya merekah walau
matanya jelas memperlihatkan rasa kaget
yang tak bisa ia sembunyikan.
Um…? Masya Allah… bawa apa itu?
tanyanya sambil berjalan menghampiri, nada
suaranya ramah tapi matanya seperti belum
percaya.
Umi Latifah tersenyum, menunduk sedikit.
Ini… cuma sedikit makanan, siapa tahu Pak
Amat belum sempat sarapan.
Pak Amat tertawa kecil. Masya Allah, ini
bukan sedikit, ini mah kalau saya makan
sendirian, bisa sampai sore.
Apa boleh saya taruh di dalam saja? tanya
Umi sambil melirik ke arah bangunan kecil di
ujung kebun.
.
.
.
Pak Amat mengangguk cepat. Oh, tentu… ayo
-ayo, mari.
.
.
.
Mereka berjalan bersama menuju saung kecil
itu. Dari luar tampak seperti gubuk biasa,
berdinding kayu dan beratap seng tua, namun
begitu masuk, mata Umi Latifah membelalak
pelan. Ruangan itu bersih, rapi, dan tak tercim
bau tanah atau keringat seperti yang ia
bayangkan.
Lantainya dialasi tikar anyaman bambu, ada
bantal dan guling rapi di pojok, sebuah lemari
kecil dari plastik, bahkan sebuah radio tua
dengan suara pelan mengalun dari balik rak
buku tipis.
Ini… nyaman sekali, Pak Amat, kata Umi
jujur, menaruh rantang di meja kecil.
Pak Amat menggaruk kepala sambil tersenyum
malu. Saya sering nginep di sini, Umi. Kadang
suka kangen suasana sepi. Rumah mah suka
ramai sama keponakan, ini tempat saya untuk
istirahat beneran.
Umi Latifah melirik ke sudut belakang. Ada
tirai kain yang menutup sebagian ruang, dan
dari sana terdengar suara tetesan air. Itu…
kamar mndi?
Pak Amat mengangguk. Iya, kecil sih. Cuma
cukup buat cebok dan mandi… hehehe.
Umi tertawa pelan. Luar biasa, Pak Amat.
Beneran nggak nyangka.
Suasana hening sebentar, tapi bukan karena
canggung, melainkan karena keduanya seperti
sedang menikmati kedekatan yang sederhana
tapi dalam. podcast hiburan Pak Amat duduk bersila, membuka
rantang satu per satu dengan wajah takjub.
Umi masak sendiri semua ini?
Siapa lagi, Pak? Beli dari mana juga coba,
jawab Umi sambil duduk di dekat jendela yang
terbuka.
Kalau tiap hari ada yang masakin begini…
saya bisa gemuk, kata Pak Amat sambil
terkekeh, lalu menambahkan, lebih pelan, …
dan mungkin, saya bisa lupa kalau saya ini
duda.
Ucapan itu menggantung sejenak di udara.
Mata Umi Latifah menatap ke luar jendela,
senyumnya tipis, namun tangannya meremas
kerudung di pangkuannya.
Saya juga… merasa begini itu bukan dosa, Pak,
kata Umi akhirnya, pelan, nyaris seperti
bisikan. Saya hidup seperti janda… suami
saya lebih sering pergi daripada pulang. Dan
setiap kali ngobrol sama Pak Amat… saya
merasa dihargai.
.
.
.
Pak Amat tak langsung membalas. Ia menatap
Umi Latifah dalam diam. Tapi sorot matanya…
teduh, hangat, dan seperti mengerti luka yang
tersembunyi dalam tawa seorang istri yang
terlalu sering ditinggal sendiri.
Setelah makan siang yang terasa lebih seperti
jamuan keluarga kecil, Umi Latifah dengan
sigap membawa rantang ke belakang. Ia
membuka tirai yang memisahkan kamar
mandi dan mencuci bersih wadah-wadah
makanan itu dengan hati yang entah kenapa
berbunga.
Sementara itu, Pak Amat duduk bersila di
depan saung, menikmati kopi yang ia tuang
dari termos, dan rokok kretek yang jarang ia
hisap di depan orang.
Angin semilir mengelus wajah, membawa bau
tanah dan kayu dari kebun. Suasana begitu
tenang. Radio pelan mengalunkan lagu lawas
‘Syahdu’ Rhoma Irama yang seolah cocok
sekali dengan suasana hati mereka berdua.
Tak lama, Umi Latifah kembali dengan tangan
masih sedikit basah, duduk di seberang Pak
Amat.
.
.
.
Maaf, tadi saya lama, airnya kecil, ujarnya
sambil menyeka tangannya dengan sapu
tangan kecil.
Pak Amat mengangguk. Nggak apa-apa. Saya
malah senang Umi betah di sini.
Umi tersenyum, namun kali ini tatapan
matanya lebih dalam, lebih… jujur.
Pak Amat… katanya pelan. Boleh saya tanya
sesuatu?
.
.
NoteL..i..k..e..mu penyemangat Mimin
Related: Explore more posts
