Skip to content
LahanBasah

LahanBasah

BALADA BESAN DAN MENANTU (PART53)

Posted on June 4, 2025 By admin

BALADA BESAN DAN MENANTU (PART53)

Isi Postingan:

BALADA BESAN DAN MENANTU PART53

…Ceritadewasa…

.

.

.

Pak Amat segera menghentikan cangkulnya

begitu melihat sosok Umi Latifah berjalan

mendekat dengan rantang di tangan. Ia

menyeka keringat di dahinya dengan ujung

lengan bajunya, senyumnya merekah walau

matanya jelas memperlihatkan rasa kaget

yang tak bisa ia sembunyikan.

Um…? Masya Allah… bawa apa itu?

tanyanya sambil berjalan menghampiri, nada

suaranya ramah tapi matanya seperti belum

percaya.

Umi Latifah tersenyum, menunduk sedikit.

Ini… cuma sedikit makanan, siapa tahu Pak

Amat belum sempat sarapan.

Pak Amat tertawa kecil. Masya Allah, ini

bukan sedikit, ini mah kalau saya makan

sendirian, bisa sampai sore.

Apa boleh saya taruh di dalam saja? tanya

Umi sambil melirik ke arah bangunan kecil di

ujung kebun.

.

.

.

Pak Amat mengangguk cepat. Oh, tentu… ayo

-ayo, mari.

.

.

.

Mereka berjalan bersama menuju saung kecil

itu. Dari luar tampak seperti gubuk biasa,

berdinding kayu dan beratap seng tua, namun

begitu masuk, mata Umi Latifah membelalak

pelan. Ruangan itu bersih, rapi, dan tak tercim

bau tanah atau keringat seperti yang ia

bayangkan.

Lantainya dialasi tikar anyaman bambu, ada

bantal dan guling rapi di pojok, sebuah lemari

kecil dari plastik, bahkan sebuah radio tua

dengan suara pelan mengalun dari balik rak

buku tipis.

Ini… nyaman sekali, Pak Amat, kata Umi

jujur, menaruh rantang di meja kecil.

Pak Amat menggaruk kepala sambil tersenyum

malu. Saya sering nginep di sini, Umi. Kadang

suka kangen suasana sepi. Rumah mah suka

ramai sama keponakan, ini tempat saya untuk

istirahat beneran.

Umi Latifah melirik ke sudut belakang. Ada

tirai kain yang menutup sebagian ruang, dan

dari sana terdengar suara tetesan air. Itu…

kamar mndi?

Pak Amat mengangguk. Iya, kecil sih. Cuma

cukup buat cebok dan mandi… hehehe.

Umi tertawa pelan. Luar biasa, Pak Amat.

Beneran nggak nyangka.

Suasana hening sebentar, tapi bukan karena

canggung, melainkan karena keduanya seperti

sedang menikmati kedekatan yang sederhana

tapi dalam. podcast hiburan Pak Amat duduk bersila, membuka

rantang satu per satu dengan wajah takjub.

Umi masak sendiri semua ini?

Siapa lagi, Pak? Beli dari mana juga coba,

jawab Umi sambil duduk di dekat jendela yang

terbuka.

Kalau tiap hari ada yang masakin begini…

saya bisa gemuk, kata Pak Amat sambil

terkekeh, lalu menambahkan, lebih pelan, …

dan mungkin, saya bisa lupa kalau saya ini

duda.

Ucapan itu menggantung sejenak di udara.

Mata Umi Latifah menatap ke luar jendela,

senyumnya tipis, namun tangannya meremas

kerudung di pangkuannya.

Saya juga… merasa begini itu bukan dosa, Pak,

kata Umi akhirnya, pelan, nyaris seperti

bisikan. Saya hidup seperti janda… suami

saya lebih sering pergi daripada pulang. Dan

setiap kali ngobrol sama Pak Amat… saya

merasa dihargai.

.

.

.

Pak Amat tak langsung membalas. Ia menatap

Umi Latifah dalam diam. Tapi sorot matanya…

teduh, hangat, dan seperti mengerti luka yang

tersembunyi dalam tawa seorang istri yang

terlalu sering ditinggal sendiri.

Setelah makan siang yang terasa lebih seperti

jamuan keluarga kecil, Umi Latifah dengan

sigap membawa rantang ke belakang. Ia

membuka tirai yang memisahkan kamar

mandi dan mencuci bersih wadah-wadah

makanan itu dengan hati yang entah kenapa

berbunga.

Sementara itu, Pak Amat duduk bersila di

depan saung, menikmati kopi yang ia tuang

dari termos, dan rokok kretek yang jarang ia

hisap di depan orang.

Angin semilir mengelus wajah, membawa bau

tanah dan kayu dari kebun. Suasana begitu

tenang. Radio pelan mengalunkan lagu lawas

‘Syahdu’ Rhoma Irama yang seolah cocok

sekali dengan suasana hati mereka berdua.

Tak lama, Umi Latifah kembali dengan tangan

masih sedikit basah, duduk di seberang Pak

Amat.

.

.

.

Maaf, tadi saya lama, airnya kecil, ujarnya

sambil menyeka tangannya dengan sapu

tangan kecil.

Pak Amat mengangguk. Nggak apa-apa. Saya

malah senang Umi betah di sini.

Umi tersenyum, namun kali ini tatapan

matanya lebih dalam, lebih… jujur.

Pak Amat… katanya pelan. Boleh saya tanya

sesuatu?

.

.

NoteL..i..k..e..mu penyemangat Mimin


Related: Explore more posts

Kisah Menarik Tags:Cerita Basah, Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seru, Kisah Basah, Kisah Seru

Post navigation

Previous Post: BALADA BESAN DAN MENANTU (PART54)
Next Post: BALADA BESAN DAN MENANTU (PART52)

Related Posts

BALADA BESAN DAN MENANTU (PART55) Kisah Menarik
BALADA BESAN DAN MENANTU (PART47) Kisah Menarik
Judul: “Rahasia di Balik Ruang Meeting” Kisah Menarik
Bayangan di Balik Jendela Kisah Menarik
TERDIAM DALAM TAKDIR (PART23) Kisah Menarik
Di Balik Senyum Wanita di Stasiun Kisah Menarik

Recent Posts

  • Teman Sekolah SMA-ku Datang Menginap di Rumahku Ketika
  • Malam Tak Terduga dengan Sahabat Lamaku
  • Godaan Tengah Malam di Rumah Tanteku
  • Pertemuan Kembali
  • Kemenangan Inspiratif: Jackpot Besar di Megawin888

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025

Categories

  • Kisah Menarik

Copyright © 2026 LahanBasah.

Powered by PressBook Grid Dark theme