BALADA BESAN DAN MENANTU (PART18)
Isi Postingan:
BALADA BESAN DAN MENANTU PART18
…CERITADEWASA..
.
.
.
Saya akan berpikir, Pak Wira… tolong beri saya waktu, ucapnya lirih, berharap itu cukup
untuk menunda permintaan Pak Wira lebih
jauh.
Pak Wira tersenyum puas. Tentu saja. Saya
tidak akan memaksa. Tapi ingat, waktu tidak
selalu berpihak kepada kita. Saya berharap
Umi segera memutuskan sebelum orang lain
mulai mengetahui apa yang terjadi antara
Umi dengan Pak Sarnu.
Umi Latifah perlahan bangkit dari tempat
duduknya, tubuhnya terasa berat saat
meninggalkan saung itu.
Dia tahu, waktu yang diberikan oleh Pak Wira
bukanlah untuk berpikir lebih lama, melainkan
untuk menyiapkan dirinya menghadapi
keputusan yang tidak pernah ia bayangkan
harus dibuat.
.
.
.
Di luar saung, langit tampak mendung, seolah
mencerminkan perasaan Umi Latifah yang
dipenuhi awan ketidakpastian dan ketakutan.
Setelah Umi Latifah pergi, Pak Wira duduk
kembali di bangku kayu dalam saungnya,
matanya memandang ke arah sawah yang
terbentang luas. Senyumnya merekah, puas
dengan perkembangan yang baru saja terjadi.
Ia merasa permainan ini sudah hampir di
genggamannya.
Sebentar lagi, gumamnya, sambil mengelus
janggutnya. Sebentar lagi, semua mulut usil
itu akan bungkam. Mereka yang menuduhku
impoten, lelaki loyo… Mereka juga yang akan
melihat siapa sebenarnya Wiraatmja.
cara
Pak Wira bisa dengan mudah menuntaskan
semuanya, namun dia memiliki
tersendiri. Pak Wira ingin setiap langkah yang
dia tempuh bisa membuat para mulut nyinyir
itu bungkam selama-lamanya. Mereka harus
melewati dulu perjalanan yang pedas, sesuai
dengan mulut mereka yang pedas penuh
kemunafikan.
.
.
.
Pada malamnya, Pak Wira dengan tenang
melangkah ke rumah Ustad Bidin, seperti yang
sering ia lakukan untuk sekadar berbincang
santai dengan besannya. Selain sebagai besan,
mereka sudah berteman lama, dan tak jarang
Pak Wira main ke rumah Ustad Bidin setelah
Isya untuk mengobrol tentang berbagai hal,
dari urusan tani hingga kehidupan di desa.
Tak jarang pula Ustad Bidin, meminta bantuan
berupa mteri pada Pak Wira. Sebagai besan
yang memang relatif lebih berkecupupan,
tentu saja Pak Wira tidak pernah ragu untuk
membantunya, dia tahu Ustad Bidin cukup
kerepotan menghidupi dua istinya yang
masing-masing masih punya anak kecil.
Malam itu tampak seperti malam-malam biasa
bagi Ustad Bidin, yang menyambut Pak Wira
dengan senyum ramahnya. Namun berbeda
bagi Umi Latifah. Begitu ia melihat Pak Wira
tiba di rumah, jantungnya berdegup kencang
dan keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
Umi Latifah yang biasanya tenang dan anggun,
kini mendadak gugup dan salah tingkah.
Tatapan Pak Wira yang sejenak tertuju
padanya seolah mengingatkannya pada
rahasia kelam yang ia sembunyikan.
Bayangan akan perselingkhannya yang
tertangkap basah oleh Pak Wira terus
menghantui pikirannya. Apakah Pak Wira
akan mengungkap aibnya malam ini? Akankah
Ustad Bidin mengetahui semuanya?
Umi Latifah berusaha bersikap biasa, tapi
matanya tak bisa lepas dari Pak Wira yang
duduk dengan tenang bersama suaminya. Ia
menyaksikan dari kejauhan sambil mencuri
pandang, mencoba menangkap sinyal apapun
yang mungkin menunjukkan niat Pak Wira
untuk membuka mlut.
.
.
.
Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Wira
membuatnya semakin gelisah. Kecemasan
semakin memuncak saat obrolan mereka
semakin akrab. Seolah-olah mereka sedang
bersantai dan tak ada yang salah, tapi Umi
Latifah tidak bisa berhenti memikirkan
kemungkinan buruk.
Pak Wira, di sisi lain, menyadari kegelisahan
Umi Latifah. Dalam hati, ia tersenyum puas,
mengetahui bahwa Umi Latifah kini berada
dalam kendalinya. Namun, ia tak berniat
membuka rahasia itu begitu saja.
Bagi Pak Wira, ini adalah permainan psikologis
yang menyenangkan. Ia tahu bahwa dengan
diam saja, ketakutan dan kecemasan Umi
Latifah akan terus tumbuh.
Semakin lama ia membiarkan Umi Latifah
hidup dalam ketidakpastian, semakin besar
kuasa yang ia miliki atas dirinya.
Percakapan antara Pak Wira dan Ustad Bidin
terus berlanjut dengan topik-topik ringan. Tak
ada tanda-tanda bahwa Pak Wira akan
membocorkan rahasia tersebut malam itu.
Tapi bagi Umi Latifah, ketakutan itu terus
menghantui.
.
.
.
Malam itu terasa sangat panjang baginya, dan
meski Pak Wira pulang tanpa mengatakan apa
-apa, kecemasannya tidak berkurang
sedikitpun. Umi Latifah semakin tersiksa.
.
.
NoteL..i..k..e .mu penyemangat pak Wira ,
Related: Explore more posts
