Skip to content
LahanBasah

LahanBasah

BALADA BESAN DAN MENANTU (PART18)

Posted on June 4, 2025 By admin

BALADA BESAN DAN MENANTU (PART18)

Isi Postingan:

BALADA BESAN DAN MENANTU PART18

…CERITADEWASA..

.

.

.

Saya akan berpikir, Pak Wira… tolong beri saya waktu, ucapnya lirih, berharap itu cukup

untuk menunda permintaan Pak Wira lebih

jauh.

Pak Wira tersenyum puas. Tentu saja. Saya

tidak akan memaksa. Tapi ingat, waktu tidak

selalu berpihak kepada kita. Saya berharap

Umi segera memutuskan sebelum orang lain

mulai mengetahui apa yang terjadi antara

Umi dengan Pak Sarnu.

Umi Latifah perlahan bangkit dari tempat

duduknya, tubuhnya terasa berat saat

meninggalkan saung itu.

Dia tahu, waktu yang diberikan oleh Pak Wira

bukanlah untuk berpikir lebih lama, melainkan

untuk menyiapkan dirinya menghadapi

keputusan yang tidak pernah ia bayangkan

harus dibuat.

.

.

.

Di luar saung, langit tampak mendung, seolah

mencerminkan perasaan Umi Latifah yang

dipenuhi awan ketidakpastian dan ketakutan.

Setelah Umi Latifah pergi, Pak Wira duduk

kembali di bangku kayu dalam saungnya,

matanya memandang ke arah sawah yang

terbentang luas. Senyumnya merekah, puas

dengan perkembangan yang baru saja terjadi.

Ia merasa permainan ini sudah hampir di

genggamannya.

Sebentar lagi, gumamnya, sambil mengelus

janggutnya. Sebentar lagi, semua mulut usil

itu akan bungkam. Mereka yang menuduhku

impoten, lelaki loyo… Mereka juga yang akan

melihat siapa sebenarnya Wiraatmja.

cara

Pak Wira bisa dengan mudah menuntaskan

semuanya, namun dia memiliki

tersendiri. Pak Wira ingin setiap langkah yang

dia tempuh bisa membuat para mulut nyinyir

itu bungkam selama-lamanya. Mereka harus

melewati dulu perjalanan yang pedas, sesuai

dengan mulut mereka yang pedas penuh

kemunafikan.

 

.

.

.

Pada malamnya, Pak Wira dengan tenang

melangkah ke rumah Ustad Bidin, seperti yang

sering ia lakukan untuk sekadar berbincang

santai dengan besannya. Selain sebagai besan,

mereka sudah berteman lama, dan tak jarang

Pak Wira main ke rumah Ustad Bidin setelah

Isya untuk mengobrol tentang berbagai hal,

dari urusan tani hingga kehidupan di desa.

Tak jarang pula Ustad Bidin, meminta bantuan

berupa mteri pada Pak Wira. Sebagai besan

yang memang relatif lebih berkecupupan,

tentu saja Pak Wira tidak pernah ragu untuk

membantunya, dia tahu Ustad Bidin cukup

kerepotan menghidupi dua istinya yang

masing-masing masih punya anak kecil.

Malam itu tampak seperti malam-malam biasa

bagi Ustad Bidin, yang menyambut Pak Wira

dengan senyum ramahnya. Namun berbeda

bagi Umi Latifah. Begitu ia melihat Pak Wira

tiba di rumah, jantungnya berdegup kencang

dan keringat dingin mulai mengalir di dahinya.

Umi Latifah yang biasanya tenang dan anggun,

kini mendadak gugup dan salah tingkah.

Tatapan Pak Wira yang sejenak tertuju

padanya seolah mengingatkannya pada

rahasia kelam yang ia sembunyikan.

Bayangan akan perselingkhannya yang

tertangkap basah oleh Pak Wira terus

menghantui pikirannya. Apakah Pak Wira

akan mengungkap aibnya malam ini? Akankah

Ustad Bidin mengetahui semuanya?

Umi Latifah berusaha bersikap biasa, tapi

matanya tak bisa lepas dari Pak Wira yang

duduk dengan tenang bersama suaminya. Ia

menyaksikan dari kejauhan sambil mencuri

pandang, mencoba menangkap sinyal apapun

yang mungkin menunjukkan niat Pak Wira

untuk membuka mlut.

.

.

.

Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Wira

membuatnya semakin gelisah. Kecemasan

semakin memuncak saat obrolan mereka

semakin akrab. Seolah-olah mereka sedang

bersantai dan tak ada yang salah, tapi Umi

Latifah tidak bisa berhenti memikirkan

kemungkinan buruk.

Pak Wira, di sisi lain, menyadari kegelisahan

Umi Latifah. Dalam hati, ia tersenyum puas,

mengetahui bahwa Umi Latifah kini berada

dalam kendalinya. Namun, ia tak berniat

membuka rahasia itu begitu saja.

Bagi Pak Wira, ini adalah permainan psikologis

yang menyenangkan. Ia tahu bahwa dengan

diam saja, ketakutan dan kecemasan Umi

Latifah akan terus tumbuh.

Semakin lama ia membiarkan Umi Latifah

hidup dalam ketidakpastian, semakin besar

kuasa yang ia miliki atas dirinya.

Percakapan antara Pak Wira dan Ustad Bidin

terus berlanjut dengan topik-topik ringan. Tak

ada tanda-tanda bahwa Pak Wira akan

membocorkan rahasia tersebut malam itu.

Tapi bagi Umi Latifah, ketakutan itu terus

menghantui.

.

.

.

Malam itu terasa sangat panjang baginya, dan

meski Pak Wira pulang tanpa mengatakan apa

-apa, kecemasannya tidak berkurang

sedikitpun. Umi Latifah semakin tersiksa.

 

.

.

NoteL..i..k..e .mu penyemangat pak Wira ,


Related: Explore more posts

Kisah Menarik Tags:Cerita Basah, Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seru, Kisah Basah, Kisah Seru

Post navigation

Previous Post: BALADA BESAN DAN MENANTU (PART19)
Next Post: BALADA BESAN DAN MENANTU (PART17)

Related Posts

JANGAN OM (PART20) Kisah Menarik
TERDIAM DALAM TAKDIR (PART10) Kisah Menarik
Di Balik Senyum Wanita di Stasiun Kisah Menarik
JANGAN OM (PART69) Kisah Menarik
JANGAN OM (PART30) Kisah Menarik
Judul: Malam di Kampung Kisah Menarik

Recent Posts

  • Teman Sekolah SMA-ku Datang Menginap di Rumahku Ketika
  • Malam Tak Terduga dengan Sahabat Lamaku
  • Godaan Tengah Malam di Rumah Tanteku
  • Pertemuan Kembali
  • Kemenangan Inspiratif: Jackpot Besar di Megawin888

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025

Categories

  • Kisah Menarik

Copyright © 2026 LahanBasah.

Powered by PressBook Grid Dark theme