Skip to content
LahanBasah

LahanBasah

ADIK IPAR PELIPUR LARA(PART6)

Posted on June 4, 2025 By admin

ADIK IPAR PELIPUR LARA(PART6)

Isi Postingan:

ADIK IPAR PELIPUR LARAPART6

Apa yang telah kulakukan?

Ini sangat memalukan dan tak

bisa diterima. Aku melakukan

kesalahan, kata hatinya.

Celia duduk di atas tempat

tdurnya, memikirkan apa yang

baru saja dialaminya.

Bagaimana bisa dia membiarkan

Dimas, adik kandung suaminya,

adik iparnya melmat bibrnya.

Kenapa aku tak bereaksi

menolak ciman itu. Ada apa

denganku. Kenapa aku justru

menikmatinya. Ini tak boleh

dibiarkan. Jangan sampai

terulang lagi, janjinya dalam

hati.

Wanita itu tak bisa tdur,

sepanjang malam memikirkan

apa yang terjadi antara dirinya

dan Dimas.

…

Bagaimana aku bisa

bertemu dan bertatap muka

serta melihatnya besok. Aku gak

akan sanggup. Itu sangat

memalukan, gumamnya.

Karena itulah, sejak

kejadian malam itu, saat Dimas

mencimnya, Celia berusaha

menghindari pemuda itu setiap

saat.

Dia merasa sangat bersalah

pada suaminya Bram karena

membiarkan Dimas

menciumnya.

Perbuatan itu tak bisa

dibenarkan, dengan alasan

apapun.

Celia harus bermain

kucing-kucingan dengan Dimas,

agar tak berpapasan dengannya

atau bertemu serta bertatap

muka dengan adikiparnya itu.

Dia bahkan menghindari

makan malam bersama, lebih

memilih makan malam bersama

Bram di luar atau makan duluan

di kamarnya atau curi-curi

waktu sebelum atau sesudah

Dimas makan.

Mas, ayok kita makan

malam di luar, ajaknya.

Kok makan di luar? Emang

gak selera makan di rumah ya?

Kan kita harus selalu malkan

bersamna mama dan papa? kata

Bram.

Lagi pengen makan

masakan restoran. Ayo dong

mau ya, rengek Celia.

Bram menuruti permintaan

istrinya itu. Tapi, dia kemudian

merasa aneh, karena setiap hari

Celia selalu mengajaknya makan

di luar.

…

Tak hanya itu, dia juga

sudah satu Minggu ini sarapan

tak bareng keluarga Bram. Itu

membuat Bram penasaran dan

bertanya-tanya.

Sayang, kenapa kita gak

sarapan atau makan malam

bersama mama, papa dan Dimas

sudah semingguan ini. Kamu

lagi ngambek sama salah satu

dari mereka ya? tanya Bram.

Gak kok, aku gak ngambek.

Hanya saja, aku harus ke butik

pagi-pagi sekali. Banyak yang

harus diurus selama seminggu

ini, sahutnya.

Beneran cuma karena itu,

bukan lagi marahan sama oraxg

tua atau adikku, tanyanya lagi

memastikan.

Iya, beneran kok,

jawabnya.

Dimas tau Celia berusaha

menghindarinya. Dia paham itu

semua terjadi setelah dia

mencium Celia malam itu.

Kakak iparnya itu pasti

marah dan tak mau melihat

wajahnya lagi. Dia menyadari

itu. Tapi, Dimas tak bisa terima

begitu saja Celia

menghindarinya terus menerus.

Dia tak tahan diperlakukan

Celia seperti itu, dicuekin dan

tak mau melihatnya serta

bertemu dengannya.

Saat Bram tak ada di rumah,

Dimas sengaja mengetuk pintu

kamar Celia, berharap wanita

itu mau bertemu dan bicara

dengannya.

Mbak, tolonglah, jangan

menghindariku terus. Bisakah

kita bicara. Aku gak tahan Mbak

Celia bersikap begini padaku,

katanya.

…

Celia yang duduk di atas

tempat tidurnya tak mau

menanggapi perkataan Dimas.

Dia tak mau bicara dengan

laki-laki itu.

Kamu pikir dengan

sikapmu ini, menghindar

dariku, aku akan menyerah?

Tidak akan. Aku tak akan

menyerah. Malah aku merasa

tertantang untuk terus bisa

didekatmu, katanya

 

Hari itu, Dimas sengaja

datang ke butikuntuk bertemu

dengan Celia. Dia sengaja

menunggu saat Celia hendak

pulang.

Dimas yang dari tadi

memantau butik itu dari

seberangjalan, menunggu saa

Celia sendirian.

Sore itu, Celia sengaja

pulang terlambat selain untuk

menghindari Dimas, dia juga

harus menyelesaikan rancangan

gaun pengantin putri seorang

menteri.

Kalian pulang duluan aja

ya, aku masih ada kerjaan yang

harus alku selesaikan, kata Celia.

Apa perlu kamu temani?

Gak apa-apa kok, kami pulang

bersamaan dengan ibu aja nanti

kata salah seorang

pramuniaga.

Gak apa-apa, kalian pulag

saja. Aku mungkin baru kembali

malam nanti, sebutnya.

Beneran, gak apa-apa ibu

kami tinggal sendirian di butik?

Kami jadi gak enak, kata staf

butik.

Sudah aku bilang, aku gak

apa-apa. Sana cepetan pulang,

kata Celia.

Staf, karyawan serta

pramuniaga itu keluar dari butik

itu karena jam kerja mereka

sudah berakhir.

…

Celia lalu menutup dan

mengunci pintu butik itu

setelah staf, karyawan dan

pramuniaganya pergi dari situ.

Dimas lalu berputar arah

mobilnya, kemudian parkir

persis di depan pintu butik itu.

Dia selanjutnya

mengklakson mobilnya

beberapa kali, dengan kerasnya.

Hal itu membuat Celia

terganggu dan ingin melihat apa

yang terjadi.

Dia lalu keluar ruangan itu,

kemudian mengintip dari balik

pintu, melihat mobil Dimas

terparkir di depan butik.

Celia kembali ke meja

kerjanya, berusaha tenang da

tak peduli suara klakson mobil

Dimas yang sebenarnya

mengganggu konsentrasinya.

Setelah beberapa saat, dia

mendengar teriakan Dimas di

depan pintu butik.

Mbak Celia, tolong buka

pintunya. Izinkan aku masuk.

Aku ingin bertemu dengan

mbak dan bicara sebentar,

tetiaknya.

Celia tak mau ambil pusing

suara klakson. Masih saja

terdengar di luar.

Tolong buka pintunya,

izinkan aku masuk. Aku hany

ingin bicara denganmu.

Sebentar saja, katanya

berteriak kencang.

Celia harus tetap tenang

agar dia bisa berpikir apa yang

harus dilakukannya saat ini.

Aku harus menghadapinya.

Bicara dengannya untuk

meluruskan semuanya agar

tidak ada kesalah pahaman

diantara kami, katanya dalam

hati sembari menarik nafas

dalam-dalam.

…

Dia lalu perlahan membuka

pintu butik, membiarkan Dimas

masuk.

Dimas kemudian masuk ke

ruangan itu, lalu duduk di sofa.

Sementara Celia masih

berdiri tak jauh darinya, melipat

kedua tangannya di dada.

Ayo sekarang bicara! Kamu

mau bilang apa padaku, kata

Celia.

Maafkan atas apa yang

kulakukan pada mbak malam

itu. Aku tau aku lancang dan

kurang ajar. Aku gak mau mbak

Celia menghindariku terus. Apa

mbak taknyaman di dekatku,

ketakutan, khawatir bila

didekatku, tanyanya.

Tentu saja aku tak nyaman

, sahut Celia.

Aku hanya ingin terus bisa

di dekat Mbak Celia, melihat

wajahmu. Mendengar suaramu,

yang walaupun setiap hari selalu

ketus dan marah-marah. Itu

lebih baik dari pada mbak diam

saja tak bicara padaku lagi,

sebutnya.

Sudah selesai bicaranya?

Atau masih ada yang ingin kamu

utarakan. Katakan saja

semuanya, aku sedang berbaik

hati mau mendengar apa yang

ingin kamu sampaikan, kata

Celia.

Aku suka sama Mbak Celia,

benar-benar suka. Aku ingin

mendapatkan dan meluluhkan

hati mbak. Aku cinta pada Mbak

Celia sejak pertama kali

bertemu, ungkapnya.

Sadarlah! Aku istri mas mu.

…

Aku takpunya perasaan apapun

padamu, hanya mengfapmu

sebagai adik ipar. Jadi,

berhentilah berharap dan

bermimpi. Carilah gadis di luar

sana yang bisa kamu cintai,

terang Celia.

Berhentilah menggodaku,

merayuku, bersikap genit, nakal,

tidak sopan dan kurang ajar

padaku. Hormatiku aku sebagai

wanita yang lebih tua darimu,

sebagai kakak iparmu. Bisa kan?

kata Celia.

Aku gak bisa. Gak bisa

memenuhi permintaanmu itu.

Aku sangat menginginkanmu.

Sayang dan cinta pada mbak,

katanya.

Aku tau kamu terobsesi

denganku. Kamu tak

seharusnya seperti ini, gak

pantas kamu suka pada istri dari

mas mu sendiri. Tolong

hentikan obsesimu itu, pinta

Celia.

Aku gak akan berhenti.

Aku tau Mbak Celia juga

sebenarnya menginginkan dan

menikmati ciumanku,

sentuhanku kan? Jujur saja

padaku, jangan memendamnya,

kata Dimas, bangun dari sofa,

mendekati Celia.

Kamu mau apa. Berhenti di

situ, jangan mendekat. Stop!

teriak Celia.

Tapi Dimas terus mendekati

Celia, lalu mendrong dan

menekan tbuhnya ke tembok,

kemudian mencim Celia penuh

nfsu.

Meski wanita itu terus

berusaha melawn, menolk,

mencoba melepskan ciman

Dimas itu.

…

Sesaat kemudian Dimas

melepskan tautan bbirnya ke

bbir Celia.

Celia begitu marah dan

emosi, lalu menampar ppi

Dimas keras.

Keluar dari butikku. Pergi

dari sini. Dasar kurang ajar. Aku

membencimu, jeritnya keras,

mulai terisak.

Celia lalu mengambil

gunting di atas meja,

mengarahkan ujungnya

tbuhnya sendiri.

Dimas kaget, tak

nenyangka apa yang Celia

lakukan.

Seketika dia tampak begitu

syok, kaget sekaligus panik dan

khawatir, takut Celia akan nekat

melukai dirinya sendiri.

Apa yang Mbak Celia

lakukan? Maafkan aku. Aku

janji gak akan bersikap kurang

ajar lagi pada mbak, katanya.

Jangan bersikap konyol

dan gegabah. Jangan nekat.

Letakkan gunting itu sekarang,

pinta Dimas, dengan suara pelan

dan lembut.

Pergi dari sini. Jangan

mendekat. Atau kamu ingin aku

menusuk perutku dengan

gunting, supaya aku mti dan

kamu puas, katanya, menangis

histeris.

Ok, aku akan pergi dari sini.

Tapi tolong, letakkan gunting

itu dulu. Please, jangan berpikir

untuk menyakiti dirimu sendiri.

Aku akan ke..keluar dari sini,

katanya, dengan wajah

ketakutan dan masih panik.

Cepat keluar!!, lagi-lagi

Celia berteriak. Dimas berjalan

perlahan-lahan, menjauh dari

Celia.

…

Wanita itu terus melihat ke

arahnya, begitu dia lengah,

Dimas mengambil dan merebut

gunting dari tangan Celia lalu

melemparnya jauh, kemudian

dia memeluk Celia.

Dia yakin, Celia tak sadar

apa yang dilakukannya itu. Dia

pasti sangat terguncang dan tak

bisa menahan emosinya atas

perbuatan Dimas hingga

berbuat nekat seperti itu.

Wanita itu terus berteriak

histeris, ingin melepaskan

dirinya dari dekapan Dimas.

Tenanglah. Mbak tenang

ya, bisiknya lembut, mengusap

punggung Celia, menenangkan

wanita itu.

Maafkan aku. Aku janji

akan bersikap baik dan

pada mbak. Tak akan kurang

ajar lagi, katanya. Celia masih

menangis terisak dalam pelkan

Dimas.

sopan

Tapi tolong, jangan pernah

bertindak seperti itu lagi. Aku

takut, aku panik. Aku gak mau

terjadi apa-apa pada mbak. Aku

mencintai Mbak Celia,

sebutnya, menatap wajahnya,

lalu mengusap ppi Celia

beberapa kali.

Sekarang kita pulang ya.

Sekali lagi, maafkan aku,

ucapnya, memapah Celia ke luar

dari butik.

Dia mengunci pintu butik

itu, lalu membawa perempuan

itu masuk ke mobilnya.

Sesampainya di rumah,

Celia turun dan langsung

menuju ke kamarnya.

Dimas benar-benar sangat

menyesal dan merasa bersalah.

Dia berjanji tak akan bersikap

kurang ajar pada Celia lagi.

Kejadian tadi membuatnya

sadar, Celia bisa berbuat nekat,

tanpa berpikir panjang dan tak

menggunakan logikanya dalam

bertindak.

Apakah kamu memang

serentan dan serapuh itu ?

batinnya.

k

Note L..i..k..e..mu penyemangat Mimin


Related: Explore more posts

Kisah Menarik Tags:Cerita Basah, Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seru, Kisah Basah, Kisah Seru

Post navigation

Previous Post: JANGAN OM (PART24)
Next Post: ADIK IPAR PELIPUR LARA (PART5)

Related Posts

JANGAN OM (PART17) Kisah Menarik
TETANGGA MENGGODA (PART22) Kisah Menarik
Usaha Tak Mengkhianati Hasil Kisah Menarik
ADIK IPAR PELIPUR LARA(PART27) Kisah Menarik
TERDIAM DALAM TAKDIR (PART29) Kisah Menarik
TETANGGA IDAMAN (PART39) Kisah Menarik

Recent Posts

  • Teman Sekolah SMA-ku Datang Menginap di Rumahku Ketika
  • Malam Tak Terduga dengan Sahabat Lamaku
  • Godaan Tengah Malam di Rumah Tanteku
  • Pertemuan Kembali
  • Kemenangan Inspiratif: Jackpot Besar di Megawin888

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025

Categories

  • Kisah Menarik

Copyright © 2026 LahanBasah.

Powered by PressBook Grid Dark theme