ADIK IPAR PELIPUR LARA(PART6)
Isi Postingan:
ADIK IPAR PELIPUR LARAPART6
Apa yang telah kulakukan?
Ini sangat memalukan dan tak
bisa diterima. Aku melakukan
kesalahan, kata hatinya.
Celia duduk di atas tempat
tdurnya, memikirkan apa yang
baru saja dialaminya.
Bagaimana bisa dia membiarkan
Dimas, adik kandung suaminya,
adik iparnya melmat bibrnya.
Kenapa aku tak bereaksi
menolak ciman itu. Ada apa
denganku. Kenapa aku justru
menikmatinya. Ini tak boleh
dibiarkan. Jangan sampai
terulang lagi, janjinya dalam
hati.
Wanita itu tak bisa tdur,
sepanjang malam memikirkan
apa yang terjadi antara dirinya
dan Dimas.
…
Bagaimana aku bisa
bertemu dan bertatap muka
serta melihatnya besok. Aku gak
akan sanggup. Itu sangat
memalukan, gumamnya.
Karena itulah, sejak
kejadian malam itu, saat Dimas
mencimnya, Celia berusaha
menghindari pemuda itu setiap
saat.
Dia merasa sangat bersalah
pada suaminya Bram karena
membiarkan Dimas
menciumnya.
Perbuatan itu tak bisa
dibenarkan, dengan alasan
apapun.
Celia harus bermain
kucing-kucingan dengan Dimas,
agar tak berpapasan dengannya
atau bertemu serta bertatap
muka dengan adikiparnya itu.
Dia bahkan menghindari
makan malam bersama, lebih
memilih makan malam bersama
Bram di luar atau makan duluan
di kamarnya atau curi-curi
waktu sebelum atau sesudah
Dimas makan.
Mas, ayok kita makan
malam di luar, ajaknya.
Kok makan di luar? Emang
gak selera makan di rumah ya?
Kan kita harus selalu malkan
bersamna mama dan papa? kata
Bram.
Lagi pengen makan
masakan restoran. Ayo dong
mau ya, rengek Celia.
Bram menuruti permintaan
istrinya itu. Tapi, dia kemudian
merasa aneh, karena setiap hari
Celia selalu mengajaknya makan
di luar.
…
Tak hanya itu, dia juga
sudah satu Minggu ini sarapan
tak bareng keluarga Bram. Itu
membuat Bram penasaran dan
bertanya-tanya.
Sayang, kenapa kita gak
sarapan atau makan malam
bersama mama, papa dan Dimas
sudah semingguan ini. Kamu
lagi ngambek sama salah satu
dari mereka ya? tanya Bram.
Gak kok, aku gak ngambek.
Hanya saja, aku harus ke butik
pagi-pagi sekali. Banyak yang
harus diurus selama seminggu
ini, sahutnya.
Beneran cuma karena itu,
bukan lagi marahan sama oraxg
tua atau adikku, tanyanya lagi
memastikan.
Iya, beneran kok,
jawabnya.
Dimas tau Celia berusaha
menghindarinya. Dia paham itu
semua terjadi setelah dia
mencium Celia malam itu.
Kakak iparnya itu pasti
marah dan tak mau melihat
wajahnya lagi. Dia menyadari
itu. Tapi, Dimas tak bisa terima
begitu saja Celia
menghindarinya terus menerus.
Dia tak tahan diperlakukan
Celia seperti itu, dicuekin dan
tak mau melihatnya serta
bertemu dengannya.
Saat Bram tak ada di rumah,
Dimas sengaja mengetuk pintu
kamar Celia, berharap wanita
itu mau bertemu dan bicara
dengannya.
Mbak, tolonglah, jangan
menghindariku terus. Bisakah
kita bicara. Aku gak tahan Mbak
Celia bersikap begini padaku,
katanya.
…
Celia yang duduk di atas
tempat tidurnya tak mau
menanggapi perkataan Dimas.
Dia tak mau bicara dengan
laki-laki itu.
Kamu pikir dengan
sikapmu ini, menghindar
dariku, aku akan menyerah?
Tidak akan. Aku tak akan
menyerah. Malah aku merasa
tertantang untuk terus bisa
didekatmu, katanya
Hari itu, Dimas sengaja
datang ke butikuntuk bertemu
dengan Celia. Dia sengaja
menunggu saat Celia hendak
pulang.
Dimas yang dari tadi
memantau butik itu dari
seberangjalan, menunggu saa
Celia sendirian.
Sore itu, Celia sengaja
pulang terlambat selain untuk
menghindari Dimas, dia juga
harus menyelesaikan rancangan
gaun pengantin putri seorang
menteri.
Kalian pulang duluan aja
ya, aku masih ada kerjaan yang
harus alku selesaikan, kata Celia.
Apa perlu kamu temani?
Gak apa-apa kok, kami pulang
bersamaan dengan ibu aja nanti
kata salah seorang
pramuniaga.
Gak apa-apa, kalian pulag
saja. Aku mungkin baru kembali
malam nanti, sebutnya.
Beneran, gak apa-apa ibu
kami tinggal sendirian di butik?
Kami jadi gak enak, kata staf
butik.
Sudah aku bilang, aku gak
apa-apa. Sana cepetan pulang,
kata Celia.
Staf, karyawan serta
pramuniaga itu keluar dari butik
itu karena jam kerja mereka
sudah berakhir.
…
Celia lalu menutup dan
mengunci pintu butik itu
setelah staf, karyawan dan
pramuniaganya pergi dari situ.
Dimas lalu berputar arah
mobilnya, kemudian parkir
persis di depan pintu butik itu.
Dia selanjutnya
mengklakson mobilnya
beberapa kali, dengan kerasnya.
Hal itu membuat Celia
terganggu dan ingin melihat apa
yang terjadi.
Dia lalu keluar ruangan itu,
kemudian mengintip dari balik
pintu, melihat mobil Dimas
terparkir di depan butik.
Celia kembali ke meja
kerjanya, berusaha tenang da
tak peduli suara klakson mobil
Dimas yang sebenarnya
mengganggu konsentrasinya.
Setelah beberapa saat, dia
mendengar teriakan Dimas di
depan pintu butik.
Mbak Celia, tolong buka
pintunya. Izinkan aku masuk.
Aku ingin bertemu dengan
mbak dan bicara sebentar,
tetiaknya.
Celia tak mau ambil pusing
suara klakson. Masih saja
terdengar di luar.
Tolong buka pintunya,
izinkan aku masuk. Aku hany
ingin bicara denganmu.
Sebentar saja, katanya
berteriak kencang.
Celia harus tetap tenang
agar dia bisa berpikir apa yang
harus dilakukannya saat ini.
Aku harus menghadapinya.
Bicara dengannya untuk
meluruskan semuanya agar
tidak ada kesalah pahaman
diantara kami, katanya dalam
hati sembari menarik nafas
dalam-dalam.
…
Dia lalu perlahan membuka
pintu butik, membiarkan Dimas
masuk.
Dimas kemudian masuk ke
ruangan itu, lalu duduk di sofa.
Sementara Celia masih
berdiri tak jauh darinya, melipat
kedua tangannya di dada.
Ayo sekarang bicara! Kamu
mau bilang apa padaku, kata
Celia.
Maafkan atas apa yang
kulakukan pada mbak malam
itu. Aku tau aku lancang dan
kurang ajar. Aku gak mau mbak
Celia menghindariku terus. Apa
mbak taknyaman di dekatku,
ketakutan, khawatir bila
didekatku, tanyanya.
Tentu saja aku tak nyaman
, sahut Celia.
Aku hanya ingin terus bisa
di dekat Mbak Celia, melihat
wajahmu. Mendengar suaramu,
yang walaupun setiap hari selalu
ketus dan marah-marah. Itu
lebih baik dari pada mbak diam
saja tak bicara padaku lagi,
sebutnya.
Sudah selesai bicaranya?
Atau masih ada yang ingin kamu
utarakan. Katakan saja
semuanya, aku sedang berbaik
hati mau mendengar apa yang
ingin kamu sampaikan, kata
Celia.
Aku suka sama Mbak Celia,
benar-benar suka. Aku ingin
mendapatkan dan meluluhkan
hati mbak. Aku cinta pada Mbak
Celia sejak pertama kali
bertemu, ungkapnya.
Sadarlah! Aku istri mas mu.
…
Aku takpunya perasaan apapun
padamu, hanya mengfapmu
sebagai adik ipar. Jadi,
berhentilah berharap dan
bermimpi. Carilah gadis di luar
sana yang bisa kamu cintai,
terang Celia.
Berhentilah menggodaku,
merayuku, bersikap genit, nakal,
tidak sopan dan kurang ajar
padaku. Hormatiku aku sebagai
wanita yang lebih tua darimu,
sebagai kakak iparmu. Bisa kan?
kata Celia.
Aku gak bisa. Gak bisa
memenuhi permintaanmu itu.
Aku sangat menginginkanmu.
Sayang dan cinta pada mbak,
katanya.
Aku tau kamu terobsesi
denganku. Kamu tak
seharusnya seperti ini, gak
pantas kamu suka pada istri dari
mas mu sendiri. Tolong
hentikan obsesimu itu, pinta
Celia.
Aku gak akan berhenti.
Aku tau Mbak Celia juga
sebenarnya menginginkan dan
menikmati ciumanku,
sentuhanku kan? Jujur saja
padaku, jangan memendamnya,
kata Dimas, bangun dari sofa,
mendekati Celia.
Kamu mau apa. Berhenti di
situ, jangan mendekat. Stop!
teriak Celia.
Tapi Dimas terus mendekati
Celia, lalu mendrong dan
menekan tbuhnya ke tembok,
kemudian mencim Celia penuh
nfsu.
Meski wanita itu terus
berusaha melawn, menolk,
mencoba melepskan ciman
Dimas itu.
…
Sesaat kemudian Dimas
melepskan tautan bbirnya ke
bbir Celia.
Celia begitu marah dan
emosi, lalu menampar ppi
Dimas keras.
Keluar dari butikku. Pergi
dari sini. Dasar kurang ajar. Aku
membencimu, jeritnya keras,
mulai terisak.
Celia lalu mengambil
gunting di atas meja,
mengarahkan ujungnya
tbuhnya sendiri.
Dimas kaget, tak
nenyangka apa yang Celia
lakukan.
Seketika dia tampak begitu
syok, kaget sekaligus panik dan
khawatir, takut Celia akan nekat
melukai dirinya sendiri.
Apa yang Mbak Celia
lakukan? Maafkan aku. Aku
janji gak akan bersikap kurang
ajar lagi pada mbak, katanya.
Jangan bersikap konyol
dan gegabah. Jangan nekat.
Letakkan gunting itu sekarang,
pinta Dimas, dengan suara pelan
dan lembut.
Pergi dari sini. Jangan
mendekat. Atau kamu ingin aku
menusuk perutku dengan
gunting, supaya aku mti dan
kamu puas, katanya, menangis
histeris.
Ok, aku akan pergi dari sini.
Tapi tolong, letakkan gunting
itu dulu. Please, jangan berpikir
untuk menyakiti dirimu sendiri.
Aku akan ke..keluar dari sini,
katanya, dengan wajah
ketakutan dan masih panik.
Cepat keluar!!, lagi-lagi
Celia berteriak. Dimas berjalan
perlahan-lahan, menjauh dari
Celia.
…
Wanita itu terus melihat ke
arahnya, begitu dia lengah,
Dimas mengambil dan merebut
gunting dari tangan Celia lalu
melemparnya jauh, kemudian
dia memeluk Celia.
Dia yakin, Celia tak sadar
apa yang dilakukannya itu. Dia
pasti sangat terguncang dan tak
bisa menahan emosinya atas
perbuatan Dimas hingga
berbuat nekat seperti itu.
Wanita itu terus berteriak
histeris, ingin melepaskan
dirinya dari dekapan Dimas.
Tenanglah. Mbak tenang
ya, bisiknya lembut, mengusap
punggung Celia, menenangkan
wanita itu.
Maafkan aku. Aku janji
akan bersikap baik dan
pada mbak. Tak akan kurang
ajar lagi, katanya. Celia masih
menangis terisak dalam pelkan
Dimas.
sopan
Tapi tolong, jangan pernah
bertindak seperti itu lagi. Aku
takut, aku panik. Aku gak mau
terjadi apa-apa pada mbak. Aku
mencintai Mbak Celia,
sebutnya, menatap wajahnya,
lalu mengusap ppi Celia
beberapa kali.
Sekarang kita pulang ya.
Sekali lagi, maafkan aku,
ucapnya, memapah Celia ke luar
dari butik.
Dia mengunci pintu butik
itu, lalu membawa perempuan
itu masuk ke mobilnya.
Sesampainya di rumah,
Celia turun dan langsung
menuju ke kamarnya.
Dimas benar-benar sangat
menyesal dan merasa bersalah.
Dia berjanji tak akan bersikap
kurang ajar pada Celia lagi.
Kejadian tadi membuatnya
sadar, Celia bisa berbuat nekat,
tanpa berpikir panjang dan tak
menggunakan logikanya dalam
bertindak.
Apakah kamu memang
serentan dan serapuh itu ?
batinnya.
k
Note L..i..k..e..mu penyemangat Mimin
Related: Explore more posts
